Home >Unlabelled > Tukul Arwana, Menjual Kepolosan
Tukul Arwana, Menjual Kepolosan
Posted on Thursday, 30 August 2012 by Unknown
Tukul Arwana, Menjual Kepolosan - Ada kejadian menarik saat saya sedang makan malam di sebuah restoran padang ditengah kota Surabaya. Saat itu waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Waktu yang sangat larut untuk sebuah makan malam. Setelah makanan
dihidangkan dimeja saya, para pelayan bergegas ke arah televisi dan segera
merubah channelnya. Sambil makan saya perhatikan ternyata mereka menonton
channel Trans7. Acara yang saya lihat adalah semacam talk show yang
dibawakan oleh seorang pelawak yang saya tidak ingat namanya tetapi wajahnya
tidak asing. Samar-samar saya mendengar para pelayan menyebut nama Tukul, ya
itulah nama host acara talk show tersebut.
Restoran padang yang sudah sepi pengunjung karena memang akan tutup pada
pukul setengah sebelas itu menjadi ramai dengan gelak tawa pelayan yang
menonton acara TV itu. Saya menjadi penasaran dan ikut menonton sambil sibuk
memilih makanan yang tertata rapi dimeja.
Saat menyaksikan tayangan TV itu secara sekilas saya seakan terhipnotis
untuk terus menontonnya. Mungkin karena suasana restoran yang menjadi penuh
gelak tawa yang membuat saya tertarik untuk tenggelam dalam suasana itu.
Dan saat akan jeda iklan ternyata saya baru tahu acara TV itu adalah bernama
Empat Mata. Jadi inilah acara yang sering dibicarakan oleh kawan-kawan saya.
Walaupun saya belum pernah menyempatkan diri untuk menontonnya karena pada
jam-jam ini biasanya saya baru akan pulang kerumah dan kalaupun dirumah saja
saya lebih memilih menonton film dari channel lain, tetapi malam ini saya
mendapatkan variasi baru dalam hiburan.
Selesai makan saya tetap menyaksikan acara itu dan begitu jeda iklan keempat
barulah saya beranjak menuju kasir dan pulang, karena restoran sudah mulai
ditutupi pintu dan jendelanya, lagipula saya juga sudah sangat lelah.
Pagi harinya hampir semua kawan-kawan saya membicarakan acara tadi malam.
Entah kebetulan atau apa, saya sudah pulang kerumah selepas Isya, sekitar
pukul sembilan malam. Dan inilah malam bersejarah bagi saya, karena saya
sudah berniat untuk menyaksikan acara Empat Mata secara penuh.
Dan benar, segmen pertama sudah dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak,
padahal dirumah hanya saya sendirian yang menonton TV. Dan sejak saat itu
acara Empat Mata menjadi menu ‘wajib’ bagi saya setiap malam.
Tukul Arwana begitulah dia menamakan dirinya, seorang host yang sekarang
memiliki nilai jual yang tinggi, dengan wajah ‘berantakan’ dan kumis tipis
yang dipelihara tumbuh disamping seperti kumis ikan arwana. Yang dulunya
bukan siapa-siapa hanyalah seorang desa yang pergi ke Jakarta bekerja
menjadi sopir pribadi, kemudian terjun ke dunia entertainment, menjadi
figuran di panggung lawak, model klip lagu anak-anak, main sinetron, pembawa
acara dan sekarang menjadi host pada acaranya sendiri.
Acara Empat Mata sendiri menurut saya tidak ada bedanya dengan talk show
yang lainnya seperti Om Farhan di ANTV, Ceriwis di Trans TV dan sebagainya.
Pokok acara itu hanyalah bincang-bincang dengan bintang tamu yang biasanya
artis dan dibumbui dengan lagu juga kuis.
Biasa-biasa sajalah menurut saya. Tetapi yang luar biasa adalah host-nya.
Tukul membawakan acara ini dengan penuh kepolosan yang benar-benar alami.
Peran dia membawakan acara menjadi sangat hidup dengan gayanya, juga
omongannya yang kadang mungkin menyakitkan hati bintang tamunya, tapi justru
itu yang memancing kita untuk tertawa. Background dia yang dari daerah tetap
dipertahankan tanpa rasa malu, gaya bicaranya yang ‘medok’ dan berusaha
berbicara dengan bahasa Inggris yang kacau balau, menjadi tambang emas bagi
dirinya. Disaat banyak orang dari daerah yang terjun ke dunia hiburan
berusaha mati-matian merubah imagenya, Tukul justru bertahan dengan gaya
yang orisinil, lugu, polos dan tidak dibuat-buat. Dan walaupun dia dari
daerah, tetapi dia memiliki skill melawak secara alami yang tidak dipunyai
orang kota atau orang yang sok kota.
Dan slogan-slogannya kini rasanya tidak asing di telinga kita, seperti
“kembali ke laptop!”, “tak sobek-sobek mulutmu!”, “kembali ke pohon sana!”
dan sebagainya. Tukul berhasil mempengaruhi penonton yang haus akan hiburan
ringan yang benar-benar menghibur.
Kalau dibandingkan dengan acaranya Farhan di ANTV, memang acaranya Tukul
terkesan sangat ‘ndeso’, tetapi dari kenorakannya itulah banyak pemirsa
setia Om Farhan yang pindah channel ke Trans7.
Tetapi ada pikiran salam benak saya, apakah dapat bertahan lama acara ini,
mengingat watak kita yang mudah bosan dan kurang menghargai orang dengan
sepenuh hati. Juga pekerja seni yang kebanyakan menjadi jual mahal setelah
acara yang dibintanginya sukses, seperti acara Republik BBM di Indosiar
beberapa waktu yang lalu yang ironisnya pada puncak kesuksesan malah menjadi
berantakan dan akhirnya pisah menjadi dua acara yang fokusnya hampir sama di
dua stasiun TV yang berbeda.
Apakah Tukul dapat tetap menjadi Tukul yang ‘ndeso’, ‘norak’, ‘kampungan’,
‘lugu’, namun ditunggu-tunggu. Kita lihat saja nanti.
Syafiq Baktir - syafiqblog[at]gmail.com
http://pinggirjalan.blogspot.com
Jl.Teknik Penyehatan Blok N
Surabaya - Jawa Timur