Ingin Bahagiakan Istri dan Anak


Ingin Bahagiakan Istri dan Anak - Pemilik nama asli Rianto itu sepertinya tengah menikmati masa keemasan. Coba bandingkan dengan belasan tahun sebelumnya, Tukul bukan siapa-siapa. Pada 1995, saat dirinya diajak hijrah ke Jakarta oleh salah seorang teman, Joko Dewo, Tukul hidup serba kekurangan.


Bekerja sebagai penyiar radio humor SK, gaji pria yang sering dipanggil sebagai Lele Dumbo karena kumis jarangnya itu hanya cukup untuk membayar separo sewa kontrakan di kawasan Cipete. “Uang ngontrak Rp 150 ribu sebulan. Gaji saya sebagai penyiar cuma Rp 75 ribu. Untuk nutupin sisanya, saya kerja serabutan atau pinjam teman. Saking seringnya saya pinjam uang, teman-teman sampai takut ketemu saya,” kenang Tukul.

Berbagai profesi pernah dijajal Tukul untuk bertahan hidup di Jakarta bersama istri tercintanya, Susiana, 38. “Mulai bikin sumur pompa, jadi MC acara kawinan, sampai jadi sopir. Pokoknya, apa saja asal menghasilkan uang,” papar komedian yang gemar menyebut dirinya sebagai Reynaldi, cover boy majalah sobek, itu.

Tukul pun bercerita keprihatinan yang dijalaninya semasa hidup mengontrak. Jangankan televisi, saat itu rak piring saja masih sebatas keinginan. “Karena nggak ada rak, piring sama perabotan dapur lain hanya ditaruh di lantai dengan dialasi koran. Belum ada meja-kursi. Cuma ada kasur dan satu lemari,” akunya.

Titik cerah karir Tukul sebagai pelawak terbuka pada 1997 saat dirinya terlibat acara Opera Sabun Mandi SCTV. “Saat itu, saya baru mulai pegang duit sampai jutaan. Yah, sudah bisa makan makanan enaklah,” ungkapnya.

Kerja kerasnya lambat laun makin menampakkan hasil. Pada 1999, Tukul bisa membeli rumah petak yang selama ini disewanya. Kemudian, dia membeli beberapa petak tanah di sampingnya hingga menjadi rumah pribadinya sekarang. Tidak hanya itu. Di daerah yang sama, Tukul memiliki tiga rumah yang dikontrakkan.

Impian seorang Tukul sebenarnya sangat sederhana. Dia ingin membuat istri dan putri semata wayangnya, Novita Eka Afriana, 7, bahagia. “Asal melihat mereka bahagia, saya puas. Buat saya sendiri, bisa masuk TV saja sudah untung. Dulu kalau saya mau masuk TV, saya kirim surat ke teman-teman di kampung supaya nonton,” paparnya.

Satu obsesi yang ingin diwujudkan Tukul adalah memiliki paket lawak sendiri bersama rekan-rekannya. “Saya pengin ngajak rekan-rekan yang belum dapat kesempatan. Dengan catatan, mereka harus mau menerima masukan dari saya. Sebab, melawak di TV dengan di panggung sangat berbeda,” ujarnya.

Sumber : Jawa Pos

What's on Your Mind...

Powered by Blogger.