Tukul Arwana di Mata Keluarga dan Orang Terdekat


Hadiahi Orang Tua Rumah Dua Lantai
Tukul Arwana memang fenomenal. Berkat aksinya di talk show “Empat Mata”, nama pelawak asal Semarang itu melambung. Meski demikian, pria berambut cepak itu tetap bersikap rendah hati.

ARIF RIYANTO, Semarang

RUMAH tua bercat hijau di Jalan Purwosari, Perbalan Gang V, Semarang Utara, itu menjadi saksi masa kecil Tukul. Tak ada yang istimewa dari bangunan di gang sempit di kawasan permukiman padat itu. Temboknya sudah rapuh dimakan usia. Hanya lantai di ruang tamu yang sudah diganti dengan keramik putih.

Sekitar 20 tahun pelawak yang memiliki nama asli Tukul Riyanto itu tinggal di rumah tersebut bersama orang tua angkatnya, Suwandi, yang sehari-hari menjadi mandor di sebuah perusahaan di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Meski hanya anak angkat, kasih sayang orang tua barunya itu layaknya kepada anak sendiri. Maklum, Suwandi memang tidak dikaruniai anak.

Tukul juga beruntung memiliki orang tua angkat yang relatif berkecukupan, bahkan boleh dibilang kaya. Dengan demikian, hampir semua kebutuhan Tukul terpenuhi.

“Untuk ukuran warga kampung di sana, orang tua angkat Tukul tergolong kaya. Saat yang lain belum punya motor dan televisi, Suwandi sudah punya. Bahkan, warga sini kalau mau nonton televisi, harus ramai-ramai ke rumah Tukul,” cerita Moch. Kuswanto, yang disebut Tukul sebagai teman akrab sekaligus guru spiritualnya.

Pemimpin Pondok Pesantren Istighfar yang akrab disapa Gus Tanto itu mengaku tahu persis masa kecil Tukul. Kebetulan dia teman satu kampung, sekaligus teman satu sekolah Tukul sewaktu di SD Purwogondo 02 Purwosari. Gus Tanto juga pernah menjadi kernet angkutan kota (angkot) Semarang jurusan Johar-Panggung yang disopiri Tukul.

Saat masih duduk di bangku SD, lanjut Gus Tanto, kawannya itu sudah dikenal humoris. Setiap saat dia selalu mbanyol (melawak, Red). Tak heran kalau Tukul memiliki banyak teman. “Tukul itu orangnya nyelelek. Ndak pernah diam. Selalu usil. Saya ini yang kerap dikerjai,” kenangnya seraya tersenyum.

Di kampung Tukul kecil dikenal sebagai anak yang lebih suka ngligo alias bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor. “Suami saya sampai memperingatkan dia. Kul, nyandi-nyandi kok ora klambenan, opo ora isin kowe? (Kul, ke mana-mana kok tidak pakai baju, apa tidak malu kamu?),” kata Siti Ngasiah, 55, bulik Tukul, yang kini tinggal di bekas rumah orang tua angkat Tukul.

Ditanya soal nama Tukul, Gus Tanto menjelaskan, awalnya nama karibnya itu hanya Riyanto. Namun, karena sakit-sakitan, oleh orang tuanya ditambahi Tukul sehingga menjadi Tukul Riyanto. “Ternyata, begitu namanya ditambah, dia jarang sakit. Akhirnya, orang pun lebih suka memanggil Tukul,” jelasnya.

Selepas SD, putra ketiga pasangan Abdul Wahid dan almarhumah Sutimah itu melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Indraprasta. Di sekolah itu, kemampuan melawak Tukul semakin terasah. Bahkan, Tukul kerap tampil di acara tujuh belasan (HUT Kemerdekaan RI) di kampungnya.

Namun, saat Tukul duduk di bangku kelas III, orang tua angkatnya mengalami kesulitan ekonomi. Bahkan, Suwandi sampai menjual rumah kepada Siti Ngasiah yang kini menghuni rumah tersebut. Puncaknya, saat duduk di bangku SMA Ibu Kartini, Jalan Sultan Agung, Semarang, Tukul mulai kesulitan membayar biaya sekolah.

Sejak itu dia mulai kerja serabutan untuk mencari biaya sekolah. “Pekerjaan apa pun dilakukan. Yang penting menghasilkan uang halal dan bisa untuk makan dan biaya sekolah,” ujar Gus Tanto yang berambut gondrong itu.

Saking sulitnya mendapatkan uang, tak jarang saat berangkat sekolah Tukul hanya mengantongi uang saku Rp 100. Padahal, ongkos naik bus dari rumahnya hingga sekolah lebih dari itu.

Begitu lulus SMA, Tukul berkali-kali mengikuti lomba lawak tingkat lokal Semarang maupun Jateng. Selain melawak sendiri, terkadang Tukul berpasangan dengan tetangganya, antara lain, Slamet, Suharno, dan Sutrisno. Bahkan, Tukul berkali-kali meraih juara. Puncaknya, dia menyabet juara pertama lomba lawak tingkat Jateng.

“Biasanya, habis meraih juara lomba lawak, Tukul mentraktir makan teman-temannya dengan hadiah uang yang diterima. Sejak kecil dia memang tidak pelit. Kalau dapat rezeki, selalu dibagi bersama,” katanya.

Untuk mempertahankan hidup, lanjut Gus Tanto, Tukul bekerja menjadi kernet angkot jurusan Johar-Panggung. Profesi itu dijalani hanya beberapa bulan, sebelum akhirnya naik “pangkat” menjadi sopir angkot jurusan yang sama. Gus Tanto yang menjadi kernetnya. “Selama jadi kernet, Tukul berlatih mengemudi. Lama-lama dia bisa dan akhirnya dipercaya menjadi sopir,” tuturnya.

Sekitar dua tahunan menjadi sopir angkot, lanjut dia, Tukul berpindah kerja menjadi sopir truk elpiji di Tanah Mas, Semarang Utara. Di tempat yang baru ini Tukul menjalani hampir dua tahun, kemudian kembali menjadi sopir angkot.

“Setelah berganti-ganti pekerjaan, Tukul memutuskan hijrah ke Jakarta sekitar 1992. Namun, perjalanan di ibu kota itu juga tidak mulus. Dia masih harus bolak-balik Jakarta-Semarang karena tak juga mendapatkan pekerjaan,” cerita Gus Tanto.

Kehidupan Tukul mulai membaik setelah dia dipercaya membintangi klip video lagu Diobok-obok yang dinyanyikan penyanyi cilik Joshua Suherman sekitar 1997. Tukul juga diajak Harry de Fretes bermain dalam Hari-Hari Mau di SCTV.

Meski namanya sudah tenar, ujar Gus Tanto, Tukul tak melupakan teman-teman lama. Bahkan, Tukul selalu berhubungan dengan Gus Tanto setiap ada masalah atau akan memutuskan sesuatu. Seperti kemarin, Radar Semarang sempat ditunjukkan SMS dari Tukul. Dalam SMS itu, Tukul meminta saran kepada Gus Tanto tentang anak semata wayangnya, Novita, yang sakit demam.

Selain itu, setiap show ke Semarang dan sekitarnya, suami Susiana itu selalu menyempatkan berkunjung ke Ponpes Istighfar, yang selama ini selalu mendapatkan kucuran sedekah maupun zakat mal dari Tukul.

“Dia memang selalu telepon ataupun SMS saya untuk meminta pertimbangan. Termasuk saat memutuskan menerima kontrak sebagai host Empat Mata,” ujarnya.

Disinggung soal acara Empat Mata, sebelum memutuskan menerima kontrak itu, Tukul memang sempat bimbang. Namun, Gus Tanto terus meyakinkan Tukul bahwa dia mampu membawakan acara itu dan nanti bisa sukses.

Meski Tukul telah sukses, ayah kandungnya, Abdul Wahid, 70, masih setia menjadi penjahit. Pria yang akrab disapa Mbah Dul itu tinggal di Dusun Nggrembel, Kecamatan Gunungpati, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Semarang.

Abdul Wahid tinggal di rumah cukup megah bersama putri keduanya, Anik Khowiyah. Rumah berlantai dua itu dibangun pada 2003, yang seluruh biayanya berasal dari Tukul.

“Saya menjadi penjahit sejak 1948. Dulu saya melayani semua jahitan pakaian maupun seragam. Sekarang hanya permak dan membetulkan resluiting saja,” kata Abdul Wahid dengan bahasa Jawa halus.

Lalu, mengapa Tukul sampai diasuh orang tua angkat? Ceritanya, pada usia 5 bulan dia sering sakit. Herannya, putra ketiga pasangan Abdul Wahid dan almarhumah Sutimah itu, jika menangis, selalu diam begitu digendong pasangan Suwandi, tetangganya.

Karena sering diemong keluarga Suwandi, Abdul Wahid dan Sutimah yang memiliki empat anak rela menyerahkan Tukul saat Suwandi menginginkan Tukul sebagai anak angkat.

Ditanya tentang sukses Tukul, ayahanda Siti Rondiyah, Anik Khowiyah, Tukul Riyanto, dan Suhadi alias Bendel itu mengaku sangat senang. Dia tidak menyangka anaknya yang diasuh orang lain sejak berusia 5 bulan itu kini menjadi orang terkenal. “Saya memang jarang ngobrol dengan dia. Kalau ke sini, hanya sebentar,” ujarnya.

Menurut Sugiyanto, 28, putra Anik Khowiyah, Tukul rutin berkunjung ke rumah orang tua kandungnya setiap Lebaran. Biasanya, Tukul datang bersama istri dan anaknya mengendarai mobil. “Di luar Lebaran, Lik Tukul datang tidak tentu. Biasanya, kalau ada acara di Semarang dan sekitarnya,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Di rumah ayah kandungnya itu, Tukul jarang menginap. Biasanya, dia hanya lek-lekan (begadang) sebentar, kemudian kembali ke hotel. “Tapi, kalau Lebaran, kadang dia menginap di sini sama anak-istrinya. Kalau ke sini, Lik Tukul suka nyari petai dan jengkol. Dia juga suka bagi-bagi uang dan pakaian ke keponakan dan tetangga,” ceritanya. (*)

Sumber : http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=8173
READ MORE

Tukul Arwana di Mata Keluarga dan Orang Terdekat

Hobi Cium Bintang Tamu Diprotes Anak
HIDUP itu mengalir. Itulah yang diyakini Tukul Arwana. Saat pertama menginjakkan kaki di ibu kota pada 1989, Tukul tak punya bayangan mau bekerja apa. Karena itu, dia ikhlas menjalani pekerjaan apa saja di Jakarta. Dari tukang gali sumur pompa, MC acara di kampung, sampai sopir pribadi.

Pada 1995, ketika usianya 32 tahun, Tukul masih jauh dari kehidupan mapan. Saat itu dia memberanikan diri meminang gadis berdarah Padang, Susiana, 26, yang tak sengaja dijumpai di sebuah hajatan pernikahan seorang kawan. Pada tahun yang sama dengan pernikahannya itu pula, Tukul memulai debut sebagai entertainer di Jakarta. Dia diterima sebagai penyiar Radio Suara Kejayaan.

“Gaji saya di radio waktu itu Rp 75 ribu per bulan. Padahal, kontrakan rumah saya sebulan Rp 150 ribu. Sisanya, saya cari dengan kerja serabutan atau cari utangan dari teman,” kata Tukul kepada Jawa Pos.

Namun, roda kehidupan memang selalu berputar. Kini kehidupan Tukul sudah sangat berbeda. Di rumah seluas sekitar 200 meter persegi berlantai dua di Jalan Sawo Ujung, Cipete Utara, Jakarta Selatan, Tukul hidup berkecukupan ditemani istri dan putri semata wayangnya, Novita Eka Afriana, 7.

Persis di samping kanan rumah bercat putih itu, berdiri tiga petak rumah kontrakan yang dikelola Tukul. Sedangkan di mulut gang menuju rumahnya, Tukul memiliki satu unit rumah lagi yang diberi nama Posko Ojo Lali.

Di posko itulah, teman-temannya sesama seniman tinggal. Di garasi posko terparkir Toyota Kijang Innova dan motor Harley Davidson yang disayanginya. Selain itu, sebuah sedan Mitsubishi Galant keluaran 1983, mobil pertama yang dibeli Tukul, masih terparkir di depan posko.

Empat Mata seakan telah mengubah status sosial Tukul. Tapi, menurut orang-orang terdekatnya, tidak ada yang berubah dari pria yang kerap dijuluki lele dumbo karena kumis tipisnya itu.

“Mas Tukul tetap suami dan ayah yang baik bagi anak saya,” kata sang istri, Susiana. Ketika jadwal kegiatannya di luar makin padat, Tukul justru bertambah sayang kepada keluarganya di rumah. “Alhamdulillah, sekarang Mas Tukul malah tambah sabar,” kata Susiana yang rambut selehernya dicat kemerahan itu.

Sebagai pelawak, Tukul dikenal sebagai sosok yang sulit serius dan selalu melontarkan lelucon-lelucon yang bisa mengundang tawa lawan bicaranya. Tapi, tidak demikian halnya saat dia di rumah.

Menurut Susiana, di luar pekerjaannya, Tukul merupakan sosok ayah yang tegas dan selalu menekankan disiplin di lingkungan keluarga. “Ngebanyol sering. Tapi, ada waktunya. Dalam mendidik anak, dia tegas sekali. Misalnya soal waktu belajar, waktu tidur siang, dan sekolah,” paparnya.

Hampir pada setiap penampilan sebagai host di Empat Mata, Tukul sering mencium pipi kanan-kiri dan bersikap mesra dengan bintang tamunya yang cantik.

“Pertama saya kaget. Bahkan, Vita (panggilan anaknya, Novita Eka Afriana) duluan yang marah. ’Kok ayah digituin sih’ katanya. Setelah itu, saya baru ngomong langsung sama Mas Tukul,” ujar Susiana.

Protes Susiana dan putrinya tidak berbuntut panjang. Setelah diberi pengertian, akhirnya mereka bisa memahami apa yang dikerjakan Tukul. “Mas Tukul ngasih pengertian. Saya pikir-pikir lagi, ternyata memang harus begitu. Itu bagian tugasnya sebagai penghibur. Sampai sekarang, saya tidak punya pikiran cemburu atau negatif lagi,” katanya.

Sejak awal pernikahan mereka hingga sekarang, Tukul selalu membicarakan masalah pekerjaan dengan istri. Jika Susiana tidak berkenan, Tukul tak segan menolak tawaran kerja yang menghampirinya. “Mas Tukul selalu mengutamakan saya. Kalau ada apa-apa, dia pasti minta pendapat saya,” ujarnya.

Melayani suami macam Tukul, lanjut Susiana, sama sekali tidak sulit. Misalnya dari segi makanan. Tukul tidak pernah minta disuguhi hidangan yang aneh-aneh. Bisa dikatakan, hampir setiap hari yang tersedia di meja makan rumahnya adalah menu makanan kampung.

“Mas Tukul makannya gampang. Dia paling senang dibuatkan oseng kangkung, oseng kacang panjang, urap, telur mata sapi, tempe goreng, bakwan jagung, dan mi instan,” papar Susiana.

Senang makanan biasa itu bukan karena ngirit. Menurut Susiana, jika dia memasak makanan mahal pun, jarang disentuh Tukul. “Sekali-sekali saya buatkan rendang atau ayam bakar. Hari itu dimakan. Tapi, besoknya pasti dia pilih jajan makanan yang biasa-biasa tadi,” kata Susiana.

Kesan sederhana juga dirasakan orang terdekat Tukul lainnya. Teguh, misalnya. Dia salah seorang teman dekat Tukul yang saat ini menangani segala keperluannya. Mulai menerima telepon, mengatur jadwal, mengoordinasi wartawan yang ingin wawancara, hingga negosiasi harga dengan calon klien. “Saya bukan manajer. Saya hanya teman yang membantu Mas Tukul,” ucapnya.

Sejak sama-sama menetap di rumah kos berukuran 2 x 3 meter awal tahun pada 1990-an, kata Teguh, Tukul tetap sosok teman yang apa adanya. Satu hal yang paling mencolok dari Tukul adalah kemauan untuk terus berusaha dan belajar.

“Bisa dibilang Mas Tukul itu paling semangat kalau dengar ada kerjaan. Apa saja pasti dia kerjakan,” kata Teguh. Karena kedekatannya itu, Tukul sudah tak sungkan lagi membagi pengalaman dan kesulitannya pada Teguh.

Dengan apa yang dimilikinya saat ini, Tukul tak pernah lupa berbagi dengan teman-temannya. Termasuk mereka yang menetap di Posko Ojo Lali. Beberapa tahun lalu Tukul sengaja membeli empat unit sepeda motor untuk digunakan teman-temannya mencari uang dengan mengojek.

Setiap syuting Empat Mata atau acara lainnya, Tukul selalu mengajak teman-teman, yang disebutnya sebagai tim sukses, untuk menonton. Sekali syuting, tak kurang dari 20 orang menemaninya. “Mereka bertugas memancing orang tertawa. Kalau ada penonton yang ketawa, pasti penonton yang lain ikut terbawa,” kata Teguh.

Sukses yang diraih Tukul saat ini ternyata sudah diduga Alex Sukamto, mantan majikan Tukul saat menjadi sopir pribadi. Menurut Alex, dia pernah dibuat kaget oleh Tukul saat mengetahui mantan anak buahnya itu punya hobi membaca.

“Setiap gajian, dia selalu menyisakan uang untuk beli buku. Saya nggak sangka, sopir kok punya hobi baca buku. Sudah gitu, buku-bukunya itu yang saya sendiri nggak ngerti. Ada yang tentang psikologi, politik, macam-macamlah,” cerita Alex.

Dari situlah, pria yang berdomisili di Pondok Cabe, Jakarta Selatan, itu mengetahui bahwa profesi yang dijalani Tukul saat itu hanya batu loncatan menuju cita-citanya yang lebih tinggi.

“Kemauan belajarnya tinggi sekali. Dia cerita ke saya, sebenarnya dia pengin sekali jadi pelawak terkenal. Dia jadi sopir hanya untuk mencukupi kebutuhan sementara,” ujarnya.

Di mata Alex, Tukul merupakan seorang perantau yang rajin dan sangat menjunjung tinggi kerja keras serta kejujuran. Terbukti, selama tiga tahun bekerja padanya, Alex tidak sedikit pun pernah dikecewakan.

Justru kemampuan Tukul dalam mengocok perut orang membuat Alex kerasan disopiri Tukul. “Sambil menyetir, biasanya kami ngobrol. Nah, di tengah obrolan itulah, dia sering melawak. Jadi, sepanjang jalan, saya ketawa terus,” kenangnya.

Hingga kini, Tukul masih sering berkomunikasi dengan mantan majikannya itu. Malah, dalam waktu dekat, Tukul akan bekerja sama dengan Alex membuka rumah makan. “Nama rumah makannya ikan bakar Tukul Arwana,” katanya. (rie)

ARI KURNIAWAN, Jakarta
Sumber : http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=8178
READ MORE

TUKUL ARWANA “Kembali ke Lap … top!!!”


TUKUL ARWANA
“Kembali ke Lap … top!!!”

Kalimat itulah yang akhirnya jadi khas dan menjadi “trade mark” untuk acara “Empat Mata” yang disiarkan oleh Trans7 (TV7). Cuman kesan yang muncul di masa awal penanyangannya adalah kesan … nih host acara koq harafiah banget … Lazimnya, ketika obrolan dengan bintang tamu mulai meluas dan tidak fokus, pembawa acara/host akan segera memotong pembicaraan dengan ucapan ; “kembali ke pertanyaan”, “kembali ke topik” … eh Tukul Arwana dengan enaknya ngomong …

“Kembali ke Lap … top!!!”


Kepindahan M. Farhan dari TRANSTV ke ANTV merupakan sebuah langkah yang cukup menarik perhatian khalayak pertelevisian di Indonesia. ANTV yang saat itu benar-benar tidak bergairah, begitu FARHAN masuk menjadi salah satu konseptor format acara ANTV, tidak lama kemudian ANTV mulai memperlihatkan perubahan-perubahan signifikan. Setelah sukses membawakan LEPAS MALAM di TRANSTV, Farhan berhasil membuat sebuah talk show di ANTV … dengan identitas dia yang lebih terekspose. Tidak tanggung-tanggung acara tersebut dilabeli “OM FARHAN”. Tidak lama “Om Farhan” menjadi salah satu unggulan ANTV. Hampir tiap hari kita disuguhi obrolan-obrolan yang ringan sekaligus mendalam. Kita tidak ragu, kalau M Farhan memang seorang konseptor acara dan sekaligus host yang kreatif.

Sementara itu, di stasiun TV lain (saat itu masih TV7), setiap Minggu malam, hadir sebuah acara talkshow serupa dan yang mengejutkan, acara tersebut dibawakan oleh Tukul Arwana, seorang komedian. Bisa dibayangkan, “kekhawatiran” penonton ketika melihat seorang komedian (yang naif, ndeso, katro’, dst) membawa acara yang teramat sangat “berat” dan “dalam” (paling tidak menurut saya). Ternyata “kekhawatiran” tersebut justru menjadi keasyikan tersendiri bagi penonton EMPAT MATA. Yang dirasakan adalah adanya kejutan dan keterkejutan. Bisa dibayangkan betapa Tukul Arwana yang sebelumnya tercitrakan ndeso tiba-tiba harus membawakan sebuah acara di mana dia harus berperan utama dan harus mampu membawa ritme acara tersebut dari awal sampai akhir.

Ketika (akhirnya) acara tersebut diformat harian, bisa menjadi alternatif acara yang cukup menggoda untuk ditonton. Seorang M Farhan, dengan “Om Farhan”-nya, akhirnya harus rela “didahului” 30 menit, oleh “Empat Mata” yang “dikemudikan” oleh Tukul.

Berprospeknya “Empat Mata” dibanding Om Farhan, bisa kita cermati dengan memilihnya Pepi untuk bergabung dengan EMPAT MATA. Kita tidak tahu, apakah karena diintimidasi oleh Tukul, kemudian Pepi lebih memilih bergabung dengan EMPAT MATA.

Kehadiran si Pepi, yang juga pernah hadir di “Om Farhan”, merupakan penyedap “Empat Mata”. Betapa tidak, Tukul (secara pribadi atau menurut arahan program director) tidak ragu untuk memberi porsi kepada Pepi untuk berperan sebagai co-host. Bukan tidak mungkin, clethukan dan senthilan si Pepi sudah juga menjadi kejutan yang kita tunggu. Hal yang sama juga diberikan kepada Vega “Ngatinem”, waitress di Barnya “Empat Mata”. Dalam hal ini, Tukul mempunyai kemampuan untuk berbagi dengan pendamping-pendampingnya. Mungkin baru ini, ketika seorang host tidak lagi dominan dalam mengantar sebuah acara.

Belum lagi, ketika kewibawaan host menjadi sebuah hal yang tidak lagi perlu dijaga. Betapa tidak, seorang bintang tamu “Empat Mata” dengan sah-sah saja melecehkan host acara. “Empat Mata” edisi Model, yang menghadirkan Donna Harun, Robby Tumewu, Arzeti Bilbina dan Olga (ExtravaganzABG), memperlihatkan bagaimana seorang HOST dicuekin oleh bintang tamunya. Inilah magnet lain “Empat Mata”.
(bersambung)

Muhammad Fajar - masfajarbagus[at]yahoo.com
Krapyak Wetan 98,
Panggungharjo,
Sewon, Bantul
Daerah Istimewa Yogyakarta
READ MORE

Ingin Bahagiakan Istri dan Anak


Ingin Bahagiakan Istri dan Anak - Pemilik nama asli Rianto itu sepertinya tengah menikmati masa keemasan. Coba bandingkan dengan belasan tahun sebelumnya, Tukul bukan siapa-siapa. Pada 1995, saat dirinya diajak hijrah ke Jakarta oleh salah seorang teman, Joko Dewo, Tukul hidup serba kekurangan.


Bekerja sebagai penyiar radio humor SK, gaji pria yang sering dipanggil sebagai Lele Dumbo karena kumis jarangnya itu hanya cukup untuk membayar separo sewa kontrakan di kawasan Cipete. “Uang ngontrak Rp 150 ribu sebulan. Gaji saya sebagai penyiar cuma Rp 75 ribu. Untuk nutupin sisanya, saya kerja serabutan atau pinjam teman. Saking seringnya saya pinjam uang, teman-teman sampai takut ketemu saya,” kenang Tukul.

Berbagai profesi pernah dijajal Tukul untuk bertahan hidup di Jakarta bersama istri tercintanya, Susiana, 38. “Mulai bikin sumur pompa, jadi MC acara kawinan, sampai jadi sopir. Pokoknya, apa saja asal menghasilkan uang,” papar komedian yang gemar menyebut dirinya sebagai Reynaldi, cover boy majalah sobek, itu.

Tukul pun bercerita keprihatinan yang dijalaninya semasa hidup mengontrak. Jangankan televisi, saat itu rak piring saja masih sebatas keinginan. “Karena nggak ada rak, piring sama perabotan dapur lain hanya ditaruh di lantai dengan dialasi koran. Belum ada meja-kursi. Cuma ada kasur dan satu lemari,” akunya.

Titik cerah karir Tukul sebagai pelawak terbuka pada 1997 saat dirinya terlibat acara Opera Sabun Mandi SCTV. “Saat itu, saya baru mulai pegang duit sampai jutaan. Yah, sudah bisa makan makanan enaklah,” ungkapnya.

Kerja kerasnya lambat laun makin menampakkan hasil. Pada 1999, Tukul bisa membeli rumah petak yang selama ini disewanya. Kemudian, dia membeli beberapa petak tanah di sampingnya hingga menjadi rumah pribadinya sekarang. Tidak hanya itu. Di daerah yang sama, Tukul memiliki tiga rumah yang dikontrakkan.

Impian seorang Tukul sebenarnya sangat sederhana. Dia ingin membuat istri dan putri semata wayangnya, Novita Eka Afriana, 7, bahagia. “Asal melihat mereka bahagia, saya puas. Buat saya sendiri, bisa masuk TV saja sudah untung. Dulu kalau saya mau masuk TV, saya kirim surat ke teman-teman di kampung supaya nonton,” paparnya.

Satu obsesi yang ingin diwujudkan Tukul adalah memiliki paket lawak sendiri bersama rekan-rekannya. “Saya pengin ngajak rekan-rekan yang belum dapat kesempatan. Dengan catatan, mereka harus mau menerima masukan dari saya. Sebab, melawak di TV dengan di panggung sangat berbeda,” ujarnya.

Sumber : Jawa Pos
READ MORE

EMPAT MATA Live di Trans|7


Trans|7 menawarkan program Comedy Talk Show “EMPAT MATA”. Adalah sebuah program Talk Show yang berbeda dengan talk show-talk show lainnya yang sekarang ada di pertelevisian kita. EMPAT MATA adalah sebuah talk show yang menggunakan perspektif komedi dan selalu menghadirkan Selebriti.


Tidak hanya menawarkan informasi, tapi juga sekaligus komedi yang segar yang dibawakan oleh Tukul Arwana, seorang Commedian yang multitalent, dapat menghibur anda sampai terpingkal-pingkal dengan candaan segar sambil mengobrol ringan seputar topik-topik menarik bersama para bintang tamu.

Selalu membahas topik / kasus yang sedang santer di masyarakat dan topik-topik yang unik, menarik & timeless. Tidak hanya talk show & komedi, EMPAT MATA juga memiliki unsur entertainment lain, yaitu musik, kejutan-kejutan untuk bintang tamu ataupun host.

kon lainnya adalah seorang MATA-MATA (paparazzi) yang akan mengintai kehidupan seorang selebritis seperti candid camera. Yang ditayangkan di dalam program dalam bentuk vt (video tape).
Dengan suasana kafe, Host dapat berinteraksi dengan para waitress, home band, bartender, pengunjung hingga penonton.

EMPAT MATA Live di Trans|7, setiap hari Minggu. Mulai tanggal 28 Mei 2006. Pukul 22.00 WIB. EMPAT MATA berisi 50 % jokes-jokes segar, 40 % information (talk show) dan 10 % musik. Segala obrolan akan dikemas secara ringan, santai, dengan gaya Tukul Arwana.

Summary Episode yang sudah tayang: Dari 2 episode yang sudah ditayangkan, para bintang tamu yang datang merasa rileks dan terhibur

Sumber : Trans|7
READ MORE

Tukul Arwana, Menjual Kepolosan


Tukul Arwana, Menjual Kepolosan - Ada kejadian menarik saat saya sedang makan malam di sebuah restoran padang ditengah kota Surabaya. Saat itu waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Waktu yang sangat larut untuk sebuah makan malam. Setelah makanan
dihidangkan dimeja saya, para pelayan bergegas ke arah televisi dan segera
merubah channelnya. Sambil makan saya perhatikan ternyata mereka menonton
channel Trans7. Acara yang saya lihat adalah semacam talk show yang
dibawakan oleh seorang pelawak yang saya tidak ingat namanya tetapi wajahnya
tidak asing. Samar-samar saya mendengar para pelayan menyebut nama Tukul, ya
itulah nama host acara talk show tersebut.


Restoran padang yang sudah sepi pengunjung karena memang akan tutup pada
pukul setengah sebelas itu menjadi ramai dengan gelak tawa pelayan yang
menonton acara TV itu. Saya menjadi penasaran dan ikut menonton sambil sibuk
memilih makanan yang tertata rapi dimeja.

Saat menyaksikan tayangan TV itu secara sekilas saya seakan terhipnotis
untuk terus menontonnya. Mungkin karena suasana restoran yang menjadi penuh
gelak tawa yang membuat saya tertarik untuk tenggelam dalam suasana itu.

Dan saat akan jeda iklan ternyata saya baru tahu acara TV itu adalah bernama
Empat Mata. Jadi inilah acara yang sering dibicarakan oleh kawan-kawan saya.
Walaupun saya belum pernah menyempatkan diri untuk menontonnya karena pada
jam-jam ini biasanya saya baru akan pulang kerumah dan kalaupun dirumah saja
saya lebih memilih menonton film dari channel lain, tetapi malam ini saya
mendapatkan variasi baru dalam hiburan.

Selesai makan saya tetap menyaksikan acara itu dan begitu jeda iklan keempat
barulah saya beranjak menuju kasir dan pulang, karena restoran sudah mulai
ditutupi pintu dan jendelanya, lagipula saya juga sudah sangat lelah.

Pagi harinya hampir semua kawan-kawan saya membicarakan acara tadi malam.
Entah kebetulan atau apa, saya sudah pulang kerumah selepas Isya, sekitar
pukul sembilan malam. Dan inilah malam bersejarah bagi saya, karena saya
sudah berniat untuk menyaksikan acara Empat Mata secara penuh.

Dan benar, segmen pertama sudah dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak,
padahal dirumah hanya saya sendirian yang menonton TV. Dan sejak saat itu
acara Empat Mata menjadi menu ‘wajib’ bagi saya setiap malam.

Tukul Arwana begitulah dia menamakan dirinya, seorang host yang sekarang
memiliki nilai jual yang tinggi, dengan wajah ‘berantakan’ dan kumis tipis
yang dipelihara tumbuh disamping seperti kumis ikan arwana. Yang dulunya
bukan siapa-siapa hanyalah seorang desa yang pergi ke Jakarta bekerja
menjadi sopir pribadi, kemudian terjun ke dunia entertainment, menjadi
figuran di panggung lawak, model klip lagu anak-anak, main sinetron, pembawa
acara dan sekarang menjadi host pada acaranya sendiri.

Acara Empat Mata sendiri menurut saya tidak ada bedanya dengan talk show
yang lainnya seperti Om Farhan di ANTV, Ceriwis di Trans TV dan sebagainya.
Pokok acara itu hanyalah bincang-bincang dengan bintang tamu yang biasanya
artis dan dibumbui dengan lagu juga kuis.

Biasa-biasa sajalah menurut saya. Tetapi yang luar biasa adalah host-nya.
Tukul membawakan acara ini dengan penuh kepolosan yang benar-benar alami.
Peran dia membawakan acara menjadi sangat hidup dengan gayanya, juga
omongannya yang kadang mungkin menyakitkan hati bintang tamunya, tapi justru
itu yang memancing kita untuk tertawa. Background dia yang dari daerah tetap
dipertahankan tanpa rasa malu, gaya bicaranya yang ‘medok’ dan berusaha
berbicara dengan bahasa Inggris yang kacau balau, menjadi tambang emas bagi
dirinya. Disaat banyak orang dari daerah yang terjun ke dunia hiburan
berusaha mati-matian merubah imagenya, Tukul justru bertahan dengan gaya
yang orisinil, lugu, polos dan tidak dibuat-buat. Dan walaupun dia dari
daerah, tetapi dia memiliki skill melawak secara alami yang tidak dipunyai
orang kota atau orang yang sok kota.

Dan slogan-slogannya kini rasanya tidak asing di telinga kita, seperti
“kembali ke laptop!”, “tak sobek-sobek mulutmu!”, “kembali ke pohon sana!”
dan sebagainya. Tukul berhasil mempengaruhi penonton yang haus akan hiburan
ringan yang benar-benar menghibur.

Kalau dibandingkan dengan acaranya Farhan di ANTV, memang acaranya Tukul
terkesan sangat ‘ndeso’, tetapi dari kenorakannya itulah banyak pemirsa
setia Om Farhan yang pindah channel ke Trans7.

Tetapi ada pikiran salam benak saya, apakah dapat bertahan lama acara ini,
mengingat watak kita yang mudah bosan dan kurang menghargai orang dengan
sepenuh hati. Juga pekerja seni yang kebanyakan menjadi jual mahal setelah
acara yang dibintanginya sukses, seperti acara Republik BBM di Indosiar
beberapa waktu yang lalu yang ironisnya pada puncak kesuksesan malah menjadi
berantakan dan akhirnya pisah menjadi dua acara yang fokusnya hampir sama di
dua stasiun TV yang berbeda.

Apakah Tukul dapat tetap menjadi Tukul yang ‘ndeso’, ‘norak’, ‘kampungan’,
‘lugu’, namun ditunggu-tunggu. Kita lihat saja nanti.

Syafiq Baktir - syafiqblog[at]gmail.com
http://pinggirjalan.blogspot.com
Jl.Teknik Penyehatan Blok N
Surabaya - Jawa Timur
READ MORE

Tarif Tukul Makin Mahal

Tarif Tukul Makin Mahal - Presenter kocak Tukul Arwana makin melejit. Di luar acara televisi atau kegiatan off air, Tukul pasang tarif Rp 30 juta sekali tampil. “Bilangin sama orang itu, kalau tidak Rp 30 juta tidak usah,” kata Tukul kepada asistennya bernama Teguh.


Di usia 43 tahun, Tukul Arwana yang bernama asli Tukul Riyanto ini menikmati masa kejayaan yang luar biasa. Lewat acara Empat Mata yang ditayangkan stasiun televisi Trans 7, Tukul benar-benar melejit. Rating Empat Mata melonjak sehingga tayangan pun digelar setiap hari selama lima hari penuh (Senin-Jumat).

Di sela syuting Empat Mata di Studio Hanggar pekan lalu, telepon Tukul berdering karena ada pendengar yang ingin mengundang Tukul untuk kegiatan off air. Telepon pun dialihkan ke asistennya. Tukul bilang bahwa angka Rp 30 juta masih tergolong murah untuk orang setenar dirinya saat ini. “Biarlah, yang penting sering. Saya tak mau langsung menaikkan tarif dengan memanfaatkan ketenaran,” kata Tukul.

Selain lima kali di Trans 7, Tukul juga mengisi acara di RCTI dengan tajuk Catatan Tukul dua kali sepekan. Dengan demikian, sepekan penuh Tukul tampil di televisi. Tapi ia menolak menyebutkan tarif sekali tampil. Andri Lunggana, produser acara yang dibintangi Tukul, juga bungkam. Tapi sumber-sumber Warta Kota menyebutkan Tukul dalam sekali tampil di televisi, Tukul bisa mengantongi Rp 20 juta. Bisa dibayangkan berapa pendapatan Tukul dalam sepekan, sebulan, atau setahun.

Tukul selalu ceria dan percaya diri (PD). Tapi di balik keceriaannya, Tukul Arwana (43) menyimpan kisah sedih. Ia baru kehilangan buah hati. Ya, dua kali istrinya, Ny Susiana, keguguran. Padahal, Tukul mengaku ingin memiliki momongan lagi setelah sebelumnya mempunyai Novita, putri semata wayangnya. Walaupun sedih, Tukul ternyata dapat menyembunyikannya di balik lawakannya. Ia bisa membuat orang tertawa terpingkal-pingkal, padahal di dalam hati ia sempat menangis.

Demikian pula saat break syuting siaran langsung Empat Mata, kedua mata Tukul tiba-tiba diserang rasa kantuk. Demi keluarga dan pekerjaan yang ia cintai, Tukul dengan sigap mengusir rasa kantuknya. Syuting pun dimulai dengan wajah yang tetap ceria. “Kembali ke laptop,” kata Tukul sambil berteriak semangat.

Tukul jenius

Tukul Arwana mulai dipercaya menjadi host nyentrik di sebuah program talkshow televisi Empat Mata sejak Juni 2006. Berkat penampilannya yang cemerlang di acara itu, nama Tukul melejit. Ucapan-ucapan Tukul jadi jargon harian, mulai dari “Kembali ke laptop”, “Silent please”, hingga “Puas!? Puas!?”. Sejumlah kalangan mengatakan bahwa sekarang adalah waktu Tukul memperlihatkan bakat emasnya.

Empat Mata benar-benar naik kelas. Awalnya tayang sepekan sekali, lalu jadi setiap hari selama Senin-Jumat, dengan perolehan iklan yang meroket. Bayangkan, jeda iklan di acara ini bisa mencapai lima menit. Soal rating, share acara Empat Mata kini mencapai angka 13,1. Kontrak Tukul pun diperpanjang hingga 260 episode. Itu artinya, bayarannya sebagai host juga naik.

Belum lagi kini RCTI ikutan mengontrak pelawak asal Perbalan, Purwosari, Semarang, Jawa Tengah, untuk acara Catatan Si Tukul yang tayang setiap Senin dan Selasa pukul 10.00. Padahal pelawak lain seperti Eko Patrio, Tessy, dan Komeng hanya membawakan sekali acara Catatan Si… dalam sepekan. Komeng, misalnya, memandu Catatan Si Komeng setiap Rabu saja. Daya jual Tukul kini melebihi para pesaingnya.

Psikolog sosial Sartono Mukadis menyebut Tukul sebagai pelawak jenius, karena dapat berpikir secara cepat (quick thinking). Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng memuji acara yang dibawakan Tukul sebagai lawakan yang menghibur, segar, santai, serta cerdas.

Pada Minggu kedua Januari 2007, Warta Kota diberi kesempatan beberapa kali oleh Tukul dan kru produksinya untuk melihat secara langsung proses pembuatan acara Empat Mata yang kini menjadi tayangan unggulan bagi televisi yang semula bernama TV7 ini. Saat itu Tukul mengundang aktor kondang Tora Sudiro, presenter seksi Cut Tari, dan komedian Mpok Atiek ke studionya di Pancoran, Jakarta Selatan.

Lain hari, Tukul mengundang kru Band Naif, penyanyi Audy, aktor Indra Birowo, sampai orang penting sekelas Andi Mallarangeng. Di sela-sela kesibukannya, para bintang tamu ’Kelas A’ yang diundang Tukul itu masih menyempatkan diri untuk hadir dan tertawa bersama ayah seorang putri ini.

Sementara di luar studio, sejak sore hari, penonton mulai terlihat datang berduyun-duyun ke studio yang sehari-hari dipakai lokasi syuting MTV Indonesia itu. Biasanya, mereka datang secara berkelompok berdasarkan kesamaan hobi atau pekerjaan. Ada pula yang sama-sama dari satu kampung di wilayah Jabodetabek. Sistem tiket pun mulai diberlakukan bagi penonton yang ingin menyaksikan “Tukul Show” untuk mengantisipasi membeludaknya penonton.

Begitu penonton masuk dengan teratur ke studio 3 dan sebelum syuting dimulai, Tukul yang sudah di make-up tak sungkan-sungkan menyapa penontonnya. Tentu saja, begitu melihat Tukul, penonton langsung tertawa. Apalagi kalau si Tukul bicara. Suara gaduh dan geeerrr… terdengar di seluruh ruangan studio. Tak lama kemudian Tukul mulai mengarahkan penonton untuk menghafalkan kalimat yang terkenal itu, “Kembali ke laptop.”

Namanya juga acara talkshow yang dikemas dibungkus lawakan karena pembawa acaranya memang pelawak, sehingga dapat dipastikan suasana syutingnya berlangsung meriah. Penonton yang melihat langsung sosok Tukul selalu dimanjakan oleh lawakannya yang membuat mulut jadi banyak tertawa dan tubuh menjadi hangat meskipun studionya sudah berpendingin.

Di Empat Mata Tukul benar-benar tampil seperti aslinya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. “Ya itulah saya yang sebenarnya, senang bercanda,” ujar Tukul yang mengibaratkan dirinya seperti mata pisau yang jelek, tapi terus diasah hingga menjadi tajam.

Mengasah mata pisau menurut pria yang mengidolakan pelawak Tarzan ini adalah bagaimana seorang pelawak menghargai sebuah proses yang harus dilaluinya. “Sekarang banyak yang ingin jadi artis biar cepat kaya dan ngetop. Mereka tidak mikir bahwa proses itu juga perlu. Saya ini sudah melalui proses yang panjang. Berangkat dari daerah, masuk Radio SK, dan melawak di Jakarta,” tutur Tukul yang menganggap bahwa tidak selayaknya seorang pelawak merasa takut jika dirinya dianggap tidak lucu.

Tukul sangat memegang erat prinsip bahwa yang terpenting dalam hidup adalah proses, dan dia telah menjalaninya selama bertahun-tahun. “Berjuang dengan butiran kristal keringat tentu berbeda dengan mereka yang instan. Saya sudah kenyang diremehkan, dicaci, dan dicibir. Saya jalan dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu panggung ke panggung yang lain. Dan inilah yang sekarang saya terima,” kata Tukul. (kin)

Sumber: Warta Kota
READ MORE

Powered by Blogger.