Home >Unlabelled > Syuting Empat Mata Bersama Tukul Arwana
Syuting Empat Mata Bersama Tukul Arwana
Posted on Thursday, 30 August 2012 by Unknown
Sedih saat Diremehkan Bintang Tamu
“Kembali ke Lap…Top”. Ungkapan itu sepertinya tak asing lagi di telinga pemirsa TV. Lewat acara bertajuk Empat Mata tayangan Trans 7 setiap Senin hingga Jumat pukul 22.00, Tukul Arwana, 43, berhasil memopulerkan jargon tersebut.
Kamis (11/1) malam lalu, koran ini berkesempatan mengikuti proses rekaman tayangan berformat talk show variety berating tinggi tersebut di Studio Hanggar, Jakarta Pusat. Malam itu, Empat Mata mengambil tema Groupies dengan mengundang para personel band Naif serta model Davina dan Nadya sebagai bintang tamu.
Menyesuaikan dengan tamu yang hadir, pada kesempatan itu, Tukul mengenakan kemeja model retro dengan motif kembang merah muda. Tidak ada kesulitan berarti bagi Tukul untuk mengocok perut tamu dan penonton yang hadir di studio.
Semakin asal jawaban yang diberikan bintang tamu, semakin ramai pula banyolan yang dilontarkan Tukul. “Setiap pertanyaan saya memang tidak perlu jawaban yang benar. Yang penting lucu saja,” kata Tukul.
Laptop menjadi bagian penting dalam acara tersebut. Dari situlah Tukul yang membawakan acara itu tanpa skrip mendapat instruksi dari Tia, tim kreatif. Kapan dia harus memanggil bintang tamu, apa saja yang mesti dilakukannya untuk semakin menghidupkan acara ada di situ.
“Laptop ini juga berguna untuk membantu saya. Kalau obrolan mulai ngelantur, saya tinggal bilang, ’Kembali ke Lap…Top’. Ini yang membedakan acara kami dengan yang lain,” cerita Tukul.
Empat Mata memang menyajikan sesuatu yang lain. Jika biasanya talk show identik dengan perbincangan berbobot dan dipandu pembawa acara berpenampilan cerdas sekaligus menarik, hal itu tidak berlaku untuk program ini. Penampilan serta kemampuan berbahasa asing Tukul jauh dari presenter kebanyakan.
Hal itu diungkapkan Andri Lunggana, produser Empat Mata saat ini. “Saya produser ketiga. Sebelumnya, ada Mas Agung Suripto dan Nik Tobing. Jujur, saya sempat berpikir, kenapa Tukul? Dia bisa apa? Pada saat awal melihat dia, saya lihat masih banyak kekurangan,” ujar Andri.
Yang jelas terlihat adalah kekurangan dari sisi penampilan. “Untuk jadi host, penampilan itu penting. Lihat saja Ferdy Hasan atau Indy Barends. Mas Tukul, ganteng juga nggak. Sudah gitu, kemampuan berbahasa asingnya juga pas-pasan banget,” pikir Andri kala itu.
Namun, semua kekhawatiran tersebut mampu dijawab Tukul dengan sebuah tayangan berkualitas. Semua kekurangan yang disebutkan Andri itu justru menjadi kelebihan yang membuat acara tersebut berbeda daripada acara sejenis lainnya.
Orang yang dirasa Tukul paling berjasa mengantarkannya sukses memandu acara Empat Mata tersebut adalah Apollo, pria asal Filipina yang ketika itu menjabat sebagai manajer produksi TV 7. Apollo sangat gencar mendorong dirinya yang mengalami krisis percaya diri.
“Awalnya saya takut. Lha, saya ini kan wawasannya rendah. Tapi, dia terus membujuk saya, ngasih gambaran, sampai akhirnya saya mau. Saya ingat betul waktu dia bilang, karakter saya mirip Larry King,” cerita Tukul.
Kesuksesan Tukul saat ini tidak lepas dari sifatnya yang keras dalam belajar. Siapa yang mengira bahwa Tukul adalah seorang kutu buku. Pada waktu senggang, pria kelahiran Semarang 16 Oktober 1963 itu suka membaca majalah atau buku-buku psikologi.
“Dengan buku-buku kejiwaan, saya dapat banyak pelajaran tentang cara menghibur yang baik dan menyiasati berbagai respons penonton,” ungkap pengagum berat almarhum pelawak Gepeng itu.
Berbagai latar belakang dan karakter bintang tamu telah dihadapinya sepanjang memandu Empat Mata. Mulai penyanyi, pemain film, politisi, hingga mantan majikannya saat dia bekerja sebagai sopir dulu. Semua sangat berkesan bagi Tukul. Sayang, yang didapatnya tidak melulu kesan baik. Tak jarang, ada bintang tamu yang malah membuat Tukul sedih.
Bintang tamu yang dimaksud Tukul adalah mereka yang memandang sebelah mata terhadap dirinya. “Dari tatapannya itu, bisa kelihatan kalau dia nganggap saya nggak selevel sama dia. Saya prihatin saja dengan orang yang seperti itu. Kalau mau senang, ya bikin orang lain senang dulu,” ungkap Tukul tanpa menyebut nama bintang tamu yang dimaksud.
Kalau menemui keadaan seperti itu, Tukul harus bekerja lebih keras untuk menghidupkan suasana. Biasanya, memperluas bahan banyolan ke penonton, ke pemain perkusi bernama Pepi, atau pada dua gadis bar Dian dan Mega. “Biar suasana nggak kosong, saya berusaha cari tek-tok ke penonton atau yang lain,” cerita Tukul.
Sumber : Jawa Pos